Di tengah kesepian dan tekanan itu, kesehatan Soekarno semakin menurun. Ia menderita berbagai penyakit, seperti rematik, ginjal, jantung, dan paru-paru. Ia juga mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Pada bulan Mei 1970, ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto karena kondisinya semakin kritis.
Di saat-saat terakhirnya, Soekarno didampingi oleh anak-anaknya, seperti Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Ia juga didampingi oleh salah satu istrinya, Hartini. Pada tanggal 21 Juni 1970, pukul 07.00 WIB, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya di usia 69 tahun.
Jenazah Soekarno kemudian dibawa ke Wisma Yaso untuk disemayamkan. Ribuan rakyat berduyun-duyun datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang proklamator. Pada tanggal 22 Juni 1970, jenazah Soekarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, tempat kelahiran ayahnya.
Soekarno meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Ia adalah sosok yang berani memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.
Ia adalah peletak pondasi ideologi bangsa Indonesia melalui Pancasila. Ia adalah pemimpin karismatik yang menginspirasi rakyat Indonesia untuk berani bermimpi dan berbuat besar.
Meskipun akhir hayatnya penuh dengan kesedihan dan kesakitan, namun nama dan jasanya akan selalu dikenang oleh sejarah dan generasi-generasi penerus bangsa.








