Indo1.id – Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan kasus seorang pria berinisial S (40) di Ciledug, Kota Tangerang, yang memasukkan jenazah bayinya yang baru lahir ke dalam freezer kulkas rumahnya.
Alasannya, ia tidak memiliki uang untuk menguburkan sang bayi.
Kasus ini menunjukkan betapa parahnya kondisi kemiskinan yang dialami oleh sebagian masyarakat kita.
Namun, kemiskinan yang dialami oleh S bukanlah kemiskinan biasa, melainkan kemiskinan struktural.
Menurut Selo Soemardjan, kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang dialami oleh suatu golongan masyarakat karena suatu struktur sosial masyarakat yang tidak bisa ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.
Kemiskinan struktural juga terkait dengan rendahnya akses terhadap sumber daya dan adanya unsur diskriminatif dalam tatanan sosial budaya atau sosial politik.
Ciri-ciri kemiskinan struktural adalah tidak adanya mobilitas sosial vertikal dan munculnya ketergantungan yang kuat dari golongan masyarakat miskin terhadap kelompok yang lebih mampu.
Contoh kemiskinan struktural yang banyak terjadi di Indonesia adalah para petani yang tidak memiliki tanah pribadi atau petani dengan kepemilikan lahan yang kecil sehingga hasilnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Golongan lain yang juga mengalami kemiskinan struktural adalah buruh yang tidak terpelajar dan terlatih yang dikenal dengan sebutan unskilled labour.
Bagaimana Kemiskinan Struktural Mempengaruhi Kasus Pria di Ciledug?
Dari kasus pria di Ciledug, kita dapat melihat bahwa ia termasuk dalam golongan masyarakat yang mengalami kemiskinan struktural.
Ia tidak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi dan fasilitas sosial yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ia juga tidak memiliki keluarga atau kerabat dekat di Ciledug yang dapat membantunya dalam mengurus pemakaman anaknya.








