Indo1.id – Sungai Cisadane, yang melintasi tanah Tatar Pasundan di Pulau Jawa, bukan hanya mengalirkan air, tetapi juga kisah-kisah geografis, misteri, dan mitos yang memikat rasa ingin tahu banyak orang.
Sungai ini, dikenal juga sebagai Ci Gede di sekitar muaranya, membawa cerita-cerita yang menghiasi warisan budaya Indonesia.
Dengan panjang sekitar 126 km, mata airnya berasal dari Gunung Kendeng dan Gunung Pangrango serta Gunung Salak.
Menurut legenda, Sungai Cisadane dianggap suci oleh Kerajaan Pajajaran, sebelumnya dikenal sebagai “sadane,” yang dalam bahasa Sanskerta berarti “istana kerajaan” atau “jalan kebijaksanaan.”
Kerajaan Pajajaran sangat menghormati air sungai sebagai sarana pembersihan diri dalam perjalanan menuju kebijaksanaan.
Sungai ini menjadi suci bagi masyarakat Hindu di Kerajaan Pajajaran, dan dengan kata “ci” yang berarti sungai dalam bahasa Sunda, “Cisadane” diartikan sebagai sungai suci yang mengalir menuju jalan kebijaksanaan dari Istana Kerajaan Pajajaran.
Namun, misteri mengelilingi Sungai Cisadane, dengan cerita tentang sebuah buaya putih makhluk gaib yang menjaganya.
Buaya ini pertama kali terlihat pada tahun 1962, diikuti oleh banjir yang meluapkan sungai.
Warga setempat melaporkan melihat buaya putih tersebut dengan ukuran yang lumayan besar.
Selain buaya putih, terdapat cerita tentang kura-kura besar dengan tulisan Mandarin di cangkangnya yang tinggal di sekitar Pekong, tempat perayaan besar masyarakat Tionghoa.
Bendungan Pintu Air Sepuluh, dibangun oleh Belanda pada tahun 1927, juga memiliki cerita mistis.
Pembangunannya dikabarkan menelan banyak korban jiwa, dan beberapa penduduk setempat mengklaim melihat sosok berpakaian putih, jeritan minta tolong, dan suara tawa perempuan yang tak berwujud di sekitarnya pada malam hari.
Makhluk gaib dan kisah tragis juga mencakup penemuan mayat di sekitar sungai, serta kasus bunuh diri.
Masyarakat percaya bahwa sosok yang terlihat adalah roh orang-orang yang meninggal di sungai ini.
Sungai Cisadane tetap memikat dengan misteri dan mitosnya yang mengalir melalui waktu, menyatu dengan warisan tak terlihat yang melekat pada sungai yang suci ini.








