Indo1.id – Kepala Badan Diklat PDIP DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak, secara tegas mengkritik pernyataan Bakal Calon Presiden (bacapres) Anies Baswedan mengenai pentingnya gagasan dan imajinasi yang berkembang menjadi karya nyata.
Gilbert menyatakan bahwa gagasan yang diusung oleh Anies Baswedan justru tidak memiliki arah yang jelas.
“Gagasan yang dia ajukan sungguh tidak terarah.
Saya juga kesulitan menemukan hal positif dari Anies, saya tidak melihat adanya kontribusi yang membuat Jakarta menjadi lebih baik daripada sebelumnya,” ujar Gilbert saat dihubungi pada hari Senin (26/6/2023).
Gilbert kemudian menjelaskan pendapatnya.
Dia mengawali pembahasannya dengan menyebut JIS (Jakarta International Stadium) yang diklaim sebagai salah satu karya Anies Baswedan, padahal sebenarnya bukan.
“JIS hampir tidak mengalami kemajuan sampai akhirnya Pemerintah Pusat memberikan pembiayaan sebesar 80% melalui program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional).
Gagasan tersebut bukanlah dari Anies, tetapi sudah dimulai sejak era Sutiyoso.
Pada masa Jokowi, stadion Lebak Bulus direncanakan untuk digantikan menjadi stasiun MRT.
Anies hanya melakukan peresmian di JIS, dan kualitas JIS yang tidak memadai, ditambah dengan masalah keamanan seperti penonton yang masuk ke lapangan dan minimnya pintu keluar, merupakan hasil dari karya Anies yang menyebabkan kegagalan sebagai tempat pertandingan. Akhirnya, stadion tersebut hanya digunakan untuk konser dan kegiatan non-olahraga,” jelasnya.
Selanjutnya, Gilbert juga mengkritik trotoar yang juga dianggap sebagai salah satu karya Anies Baswedan.
Dia menyatakan bahwa trotoar di DKI Jakarta sebenarnya salah konsep.
“Konsep trotoar tersebut tidak tepat jika dilihat dari segi jalur sepeda.
Gagasan ini menjadi karya yang justru menambah kemacetan di Jakarta, dan merupakan kontribusi Anies dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang terpolusi di dunia,” tambahnya.
Gilbert Simanjuntak menegaskan bahwa dalam pandangannya, gagasan dan karya yang diusung oleh Anies Baswedan tidak memberikan dampak positif yang signifikan bagi kemajuan Jakarta.
Kritik keras ini menjadi bagian dari perdebatan mengenai kinerja Anies Baswedan sebagai kepala daerah dan potensi pencalonannya sebagai presiden di masa depan.








