Indo1.id – Qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu.
Qurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu pada hari raya Idul Adha atau hari tasyrik, yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Qurban berasal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang akan menyembelih putranya Nabi Ismail AS sebagai perintah Allah SWT.
Kisah ini merupakan ujian bagi Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menunjukkan ketaatan dan pengorbanan mereka kepada Allah SWT.
Berikut ini adalah cerita sejarah awal ibadah qurban:
– Nabi Ibrahim AS adalah salah satu nabi ulul azmi yang sangat taat dan beriman kepada Allah SWT.
Ia telah menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam menyebarkan risalah tauhid, seperti dibakar oleh kaumnya, diusir dari tanah kelahirannya, dan dipisahkan dari keluarganya.
– Nabi Ibrahim AS menikah dengan Siti Sarah, namun mereka tidak dikaruniai anak hingga usia lanjut.
Nabi Ibrahim AS sangat mendambakan seorang anak yang saleh, maka ia pun berdoa kepada Allah SWT agar diberi keturunan.
Doa Nabi Ibrahim AS tersebut tercantum dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 100:
” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
– Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim AS dengan memberinya seorang putra dari istri keduanya, Siti Hajar. Putra tersebut bernama Ismail.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 101:
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).”
– Nabi Ibrahim AS sangat menyayangi putranya Ismail. Namun, ketika Ismail berusia remaja, Nabi Ibrahim AS mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih putranya sebagai perintah Allah SWT.
Mimpi ini berulang tiga kali, sehingga Nabi Ibrahim AS yakin bahwa itu adalah wahyu dari Allah SWT.
– Nabi Ibrahim AS pun menyiapkan pisau dan tali untuk menyembelih putranya.
Ia lalu mengajak Ismail untuk pergi ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, ia menceritakan mimpinya kepada Ismail dan bertanya apakah ia bersedia untuk dikorbankan.
Ismail pun menjawab dengan penuh kesabaran dan keikhlasan bahwa ia siap untuk menaati perintah Allah SWT.
Jawaban Ismail tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 102:
“(Ibrahim berkata): “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.”
– Setibanya di tempat yang ditunjukkan oleh Allah SWT, Nabi Ibrahim AS pun membaringkan putranya dan mengasah pisaunya.
Namun, ketika ia hendak menyembelih putranya, pisau tersebut tidak dapat memotong leher Ismail.
Hal ini karena Allah SWT telah mengganti Ismail dengan seekor domba jantan yang gemuk.
– Allah SWT pun berseru kepada Nabi Ibrahim AS bahwa ia telah lulus dalam ujian tersebut dan telah menunjukkan ketaatan dan pengorbanannya yang luar biasa.
Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 103-107:
” Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami tinggalkan (pemberian pahala) baginya di kalangan orang-orang yang kemudian (datang).”
Dari kisah ini, kita dapat belajar tentang nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah qurban, yaitu:
– Ketaatan kepada Allah SWT dan kesediaan untuk mengorbankan apa yang kita cintai demi-Nya.
– Kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT.
– Kepedulian dan kebersamaan dengan sesama umat Islam, terutama yang kurang mampu, dengan membagi-bagikan daging qurban kepada mereka.
Demikianlah artikel berita tentang cerita sejarah awal ibadah qurban dalam Islam. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang ibadah yang mulia ini.








