Indo1.id -Pertumbuhan industri minyak sawit di dunia, masih bergantung pada produksi minyak sawit yang berasal dari Indonesia dengan porsi mencapai lebih dari 50%. Keberadaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bagi masyarakat Indonesia, bahkan dunia, dibutuhkan sebagai bahan baku pangan dan bioenergi.
Di lain sisi, kondisi pasar global yang mengalami defisit pasokan akibat terjadinya perang Rusia dan Ukraina telah berpengaruh secara signifikan terhadap 34 negara di dunia.
Pasalnya, keberadaan Rusia dan Ukraina sebagai pemasok minyak biji bunga matahari mengalami hambatan hingga pemberhentian suplai pasokan ke pasar global. Kondisi ini juga berdampak langsung terhadap minyak sawit yang juga mengalami kenaikan harga jual akibat melambatnya produksi.
Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) RI, Khadikin, mengungkapkan saat ini Indonesia masih menjadi episentrum negara produsen dan konsumen minyak sawit dunia. Tidak hanya itu, Indonesia juga menjadi tumpuan dalam dinamika pembentukan harga CPO dunia karena mempunyai magnitude dalam sisi supplydan demand.
Sementara itu, kondisi aktual pasar minyak nabati dunia menunjukkan kerawanan tinggi dan sensitif terhadap perubahan lingkungan strategis. Khadikin mencontohkan, pada saat mulai invasi Rusia ke Ukraina pada bulan April 2022 lalu, harga CPO internasional meningkat RM 1.000/MT dalam kurun waktu 3 (tiga) hari.