Indo1.id – Sri Mulyani (Menkeu) mengatakan bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah berbagai guncangan yang terjadi dalam ranah ekonomi global.
Beberapa guncangan tersebut meliputi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, perang antara Ukraina dan Rusia yang menghambat global supply-chain, serta keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) dan Credit Suisse (CS).
Menkeu mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki stabilitas ekonomi yang baik, ditunjukkan dengan turunnya inflasi di bawah 5 persen dan nilai tukar yang stabil.
Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) cukup kompetitif, serta Gross Domestic Product (GDP) masih stabil. Hal ini membuat Indonesia dan India menjadi dua negara yang berlomba menjadi top performer di G20 atau di dunia.
Menurut Menkeu, seluruh sektor telah mengalami pemulihan dari pandemi COVID-19.
Scarring effect juga secara perlahan sudah sembuh, bahkan di daerah seperti Bali sudah pulih. Semua sektor sudah mulai pulih, dan juga didukung oleh domestic demand yang relatif stabil.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia melonjak pada periode 2021-2022 berkat dorongan dari ekspor.
Saat ini, dorongan dari sisi ekspor dan impor diprediksi akan menurun, tetapi domestic demand masih relatif terjaga. Dengan pemulihan ekonomi yang merata dan baik, angka pengangguran menurun cukup meyakinkan dari sebelumnya 7,1 persen pada masa pandemi tahun 2020 menjadi 5,86 persen pada 2022.
Begitu pula dengan angka kemiskinan yang menurun dari 10,2 persen pada 2020 menjadi 9,6 persen pada 2022.
Menkeu juga menyoroti transformasi ekonomi Indonesia yang meningkat secara baik, terjadi hilirisasi dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Ini sebabkan neraca pembayaran kita relatif menjadi cukup resilien pada saat tadi guncangan-guncangan global terjadi.
Kita lihat transaksi berjalan kita tahun 2022 capai surplus dan terjaga, dan kemudian munculnya nilai tambah yang ciptakan momentum growth terutama dari sisi investment.








